Sabtu, 19 November 2022

JUARA 3 CIPTA CERPEN BULAN BAHASA 2022

 

Metamorfosis Virus

Sebuah majalah sains menampilkan tayangan di lamannya. Tampilkan latar sebuah hamparan hutan luas, memparodikan simpanse dan singa dengan masker di congornya. Saya tersenyum. Sepertinya virus sudah melanda perkumpulan hewan. Namun, setelahnya senyum saya hilang, ada fakta yang disembunyikan dalam balik masker.

Fakta memperlihatkan hewan-hewan yang sudah ditampilkan tadi. Yang belum ada sentuhan editan. Tak ada tempelan masker yang tutupi congor simpanse dan singa. Dan masker itu sebetulnya bukan banyolan untuk membuat manusia tertawa. Penawar agar tak terlalu merasakan sebaran virus dalam tubuh. Namun, masker di congor hewan-hewan, menutupi luka mereka. Simpanse dan singa serempak penuh darah di mulutnya.

Video menghitam sesaat. Lantas beralih menampilkan iklan sabun dengan adegan slow motion: seorang perempuan jenjang menggosok betisnya, kulitnya basah dan tampak buih menggunung.

Pengalihan itu tak membuat saya hanyut dalam buih sabun. Ini bukan televisi yang suka sembunyikan kengerian dunia atau tak sesuai pandangannya. Dan ini adalah siaran yang dinaungi embel-embel sains. Artinya, singa yang sibuk mengunyah tulang hingga menembus mulutnya, bagian dari proses ilmiah dan tak dirancang. Mengapa masih perlu sensor?

Saya rasa itu menyalahi kode etik kenikmatan konsumen. Tak sesuai kesepakatan awal, yang menyatakan peringatan tayangan ini berbahaya sebab tampilkan senyatanya kehidupan alam luas dan buas. Dan saya setuju, memang tayangan ini saya cari. Sangat membantu dalam studi saya. Namun, penyensoran terhadap darah singa seakan melukai keinginan penonton. Tak sesuai kesepakatan awal. Bukankah kebuasan hewan sampai berdarah-darah termasuk terms and agreement diawal? Mengapa masih perlu sensor?

Maka, di tab baru ini, saya membuka layanan yang disediakan majalah sains itu. Mencari kontak yang dapat tersambung langsung pada siaran yang diputar. Tak sulit temukan nomornya, namun kesulitan menyambungkan dengan nomor yang sudah saya pastikan tak keliru. Dalam benak saya ini hal lumrah, mereka pasang dengan nomor perusahaan, bukan pribadi. Pastilah dibiarkan berdering di lorong perusahaan dan mengganggu staf lain yang sibuk.

Tak boleh disudahi pencarian saya hanya sebab panggilan tak diangkat. Saya menuju kolom live chat di unggahan yang masih hangat ini. Beberapa komentar dari orang lain sudah singgah, namun bahasan mereka terlalu lugu.

Ada apa ini?

Kenapa tiba-tiba mati?


Aku sudah berlangganan yang platinum, lho… Kenapa juga kena iklan?

Gak apa perbaiki dulu. Aku ngeri liat darah, gak etis juga. Kalo perlu dihitam putih atau diblur selayar sekalian.

Lho…

Sungguh. Komentar-komentar mereka hanya akan tenggelam dan tak memicu perdebatan. Tak mampu koreksi kesalahan majalah sains yang melanggar aturannya sendiri. Membuat saya tergerak beri komentar juga. Perlu saya pikirkan matang dan mulai mengetik  di kolom komentar. Saya baca ulang. Menemukan kata yang kurang cocok. Saya ganti. Saya baca lagi. Begitulah hingga setengah jam larut. Dan selesai kalimat saya. Sekadar dua kalimat. Cukup menonjok. Membuahkan saya tersenyum dan tak lupa memencet enter.

Saya suka tayangan yang menyakitkan ini, tapi kenapa kalian menyudahi? Begitulah sains, biarlah hewan-hewan menikmati prosesnya dan kita mencermati ulahnya.

Terlalu kejamkah kalimat saya? Atau (kalimat) mereka yang terlalu baik? Jangan- jangan jika mereka, orang-orang berkomentar baik, yang takut melihat hewan kesakitan, akan melakukan pemisahan hewan-hewan yang sedang menjalankan rantainya. Memisah dengan melempar batu kepada singa tengah mengigit paha kerbau yang sibuk melepas diri. Memukulkan ranting ke ular yang berusaha melilit bayi rusa karena dianggap kekerasan anak di bawah umur. Dan parahnya, jika ada kucing berhias kutu tersesat di hutan, orang-orang baik akan membawa pulang. Mengutuki kutu dengan sabun dan sisir khusus demi keelokan bulu kucing. Dan setelah itu? Menjadi sayang pada kucing, tak rela melepas ke hutan lagi. Padahal, kucing sudah mengeong, merasa dirinya tersesat. Ingin kembali ke alamnya.

Dan sekarang, earphone yang saya kenakan seperti ada ketukan pintu. Saya lepas sesaat, dan benar: pintu rumah saya diketuk diikuti ngeongan kucing. Saya mengalihkan mata dari layar dan berjalan ke suara ngeong. Saya buka pintu, ngeongan semakin ganas dan ia mengendus kaki saya tanggalkan bulu rontok. Sungguh saya kasihan padanya. Saya lihat sekeliling, ini perumahan, Bung! Hutan ada di utara sana, sekiranya 135km dari ngeongan di sini. Tak sanggup saya mengantar apalagi ini musim virus. Begini saja, saya izin ke dapur sebentar. Memungut paha ayam semalam dan kembali kengeongan. Saya hantar ia ke jalan depan rumah, kasihkan paha ayam dan ia berhenti meng-ngeong.

Selamat melakukan perjalanan 135km setelah kenyang!

Saya tak bisa menunggui kucing sampai hilang di tikungan gang. Segera saja tutup pintu dan cuci tangan. Kembali tenggelam suara musik dari earphone dan di hadapan laptop mata saya terbelalak mendapati komentar saya sungguh ramai tanggapan. Tanggapan- tanggapan itu makin ke bawah, makin jelas membentuk dua kubu. Katakanlah, antara kubu


orang-orang baik melawan kubu orang-orang jahat. Tanggapan-tanggapan yang pro dengan komentar saya diserang habis-habisan oleh kubu orang-orang baik. Terlalu kejamkah kalimat saya?

Setidaknya kekejaman saya, membuahkan hasil. Satu surat bersarang pada email saya, tertulis pengirim adalah majalah sains tersebut. Singkat kata, mereka terpancing komentar saya, entah sependapat atau berseberangan. Mengajak saya live report sebagai narasumber. Jika hendak, segera hubungi nomor tertera. Ini nomor yang beda. Ah, mereka akan menguji kepakaran soal naluri hewan. Oke, saya tertantang. Untuk kebaikan hidup hewan-hewan alam sesuai rantainya, saya bersedia.

Secara cepat panggilan tersambung, suara perempuan memanggil saya, inginkan saya tak hanya andil dalam suara, juga rupa.Tayangan akan segera mulai lagi. Hewan-hewan tanpa masker, bertampang tanpa dibuat-buat. Menandakan mereka benar-benar sepaham dengan komentar saya. Tak lama, tayangan tersiar kembali. Terpampang muka saya, berbagi dengan kondisi di sana. Lagi-lagi mata saya terbelalak, yang mana saya tadi menginginkan hewan- hewan senyatanya, sederet fakta kali ini di luar bayangan saya.

Simpanse yang menyimpan luka pada mulutnya tadi, menyunggingkan mulut sambil berkaca pada air sungai. Sedang tangannya sibuk memegang batu lonjong dan dirapatkan  pada kaleng yang tertancap pada mulutnya. Ia memoles perlahan dan membenahi posisi kaleng dirasa pas. Pada frame lain, singa tak mau kalah. Tulang yang menancap—saya rasa tulang kerbau— pada mulutnya, ia gesek pada batu. Memoles juga. Pada frame yang bergantian, keduanya meneteskan darah dan tetap menyungging. Adakah kesenangan baru dalam kesakitan mereka? Atau mereka selalu begitu menanggapi kesakitannya, dalam hutan yang sebetulnya saya benar-benar tak tahu. Membinasakan kata-kata saya dalam tayangan ini, yang berkaca atas komentar saya.

Saya benar-benar tak mampu berkata saat perempuan narator meminta pendapat saya. Medadak kaleng dan tulang itu serasa beralih mencabik mulut saya. Saya merasakan perihnya, nyerinya, juga bau amis darah. Kaku lidah saya. Bibir menggigil. Saya kesakitan, keluarkan kata-kata yang hanya menjadi erangan. Perempuan narator meminta kejelasan lebih  lanjut dari komentar saya di laman. Saya berpendapat. Yang keluar hanyalah erangan. Narator menanyakan ada apa dengan saya? Saya menjawab. Namun, lagi-lagi yang terdengar  hanyalah erangan. Ia terheran-heran. Saya pun tak paham. Barangkali rasa sakit telah mengubah seluruh kata-kata menjadi erangan. Perempuan narator tampak kesal karena saya terus-menerus mengerang. Meninggalkan saya dan beralih pada frame-frame yang tunjukan


senyum simpanse dan singa punya hiasan baru di mulut. Kaleng dan tulang mereka jadikan tindik!

Sambungan telekomunikasi terputus. Wajah saya lenyap dari layar.

“Mohon maaf, Pemirsa. Sepertinya ada gangguan komunikasi. Kami akan berusaha menyambungkannya kembali dengan narasumber.”

Layar beralih, memperlihatkan hamparan maha luas. Diikuti suara narator pamit undur diri, serta meminta maaf atas narasumber yang tak bersuara. Saya malu. Sebab, tak tahu pasti kehidupan hewan-hewan lebih dekat. Dan sekarang, berharap hamparan maha luas ini mengkerdilkan simpanse dan singa—terlihat dari kejauhan— agar mereka tampak normal- normal saja.

 

2022


JUARA 2 CIPTA CERPEN BULAN BAHASA 2022


Tanah Kehidupan Baru

 

Langit abu-abu menyapa Rima yang sedang bergelut dengan pikirannya. Hatinya teduh, hanya tinggal menunggu waktu untuk melontarkan sang petir. Rasanya seperti mimpi buruk dan ia hanya ingin terbangun dari mimpi itu.

 

"Tak adil" ucap Rima sambil berdecak.

 

Kejadian ini merupakan kiamat kecil bagi keluarganya. Rima belum cukup ikhlas untuk meninggalkan kenangan di tanah kelahiran, rumah lamanya. Rumah yang menjadi saksi bisu perjalanan hidup, kini harus dirampas oleh keserakahan keluarganya.

 

"Teh dipanggil ibu," ucap Rina sambil menepuk bahu Rima

 

Rima terkejut dengan suara yang dilontarkan adiknya. Lalu, ia pun  mengangguk dan berjalan menelusuri rumah dengan menunjukkan topeng kehidupannya.

 

"Bu, ada apa?" tanya Rima kepada ibunya yang sedang merapihkan baju. "Baju kamu sudah dirapihkan, Teh? Baju Rina juga sudah?" tanya ibu. "Sudah rapih, Bu" jawab Rima.

Ibu tersenyum. "Nya atuh bagus. Besok kamu sekolah diantar sama bapak wéh

yaa. Ibu mau cari TK buat Rina di sekitar," tutur ibu. Rima mengangguk, "Nya, Bu."

Pagi pun tiba diiringi mentari yang menyambut kehidupan baru Rima. Rasanya enggan sekali untuk menginjakan kaki di sekolah baru. Ia tak bersemangat hari ini hingga tak ada senyuman manis di bibirnya.

 

"Aduhh si cantik kenapa kusut gitu mukanya?" tanya ayah.

 

" Yah, boleh ga si aku gak sekolah aja?" kata Rima.


"Eh kok ngomongnya gitu. Pendidikan itu penting, Teh. Teteh gamau direndahin untuk kedua kalinya, kan?” tanya ayah.

 

Rima merespon dengan menggelengkan kepala saja. "Tapi aku takut Yah, aku takut sulit beradaptasi dengan teman-teman baruku nanti,”tegas Rima.

 

“Apa yang kamu takutkan, Teh?”tanya ayah.

 

“Aku pasti kurang paham dengan bahasa obrolan mereka, Yah. Aku kan dari kampung, bahasa sunda pun aku cuma bisa dasarnya aja.” Rima menghela nafas.

 

Ayah tertawa. “Hahaha, cuma itu loh.”

 

“Gini loh, Teh. Bahasa di indonesia itu kan ada banyak sekali. Mengenal orang baru tuh sebuah kebanggaan untuk kita karna kita dapat mengenal hal baru yang tidak diajarkan di sekolah. Pasti temen kamu juga ngerti kok, jangan takut ya. Anak Ayah pemberani, kan.” Menatap Rima dengan memberikan semangat.

 

“Oke deh, Yah. Yuk berangkat.” Rima tersenyum ke arah ayah.

 

Setelah perbincangan yang dilakukan ayah bersama Rima selesai, mereka berpamitan dengan ibu dan adiknya yang sedang mengisi perut di meja makan.

 

Mereka tiba di sekolah, ayah pun mengantarkan Rima ke ruang guru untuk mengurus berkas yang tertinggal. Setelah itu, Rima diantarkan ke sekolah bersama wali kelasnya.

 

"Apakah harus dimulai dari awal lagi?” ucapnya dalam hati sambil memandangi setiap sudut sekolah.

 

Setibanya di ruang kelas, Rima memperkenalkan diri kepada teman-teman layaknya siswa baru. Mereka menyambut Rima dengan hangat. Tetapi, Rima selalu saja berpikir buruk terhadap lingkungan di sekitarnya.

 

“MashaAllah ayu tenan,” ucap salah satu murid lelaki di pojok kelas.


Semuanya bersorak ke arah lelaki itu.

 

Rima merasa bingung. “Namaku Rima bukan Ayu.”

 

Gemericik tawa dari anak-anak memenuhi ruang kelas. Rima terkesan malu. Ia belum mengerti tentang bahasa mereka karena di lingkungan sebelumnya menggunakan bahasa daerah setempat dan berbeda dengan bahasa di sini.

 

“Ayu yang dimaksud Dimas tuh bukan nama orang, Rim” ucap salah satu anak kelas.

 

“ Ya terus téh apa?”tanya Rima

 

“Itu artinya kamu cantik,” tutur Dimas.

 

Ibu Guru hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan anak muridnya. “Sudah-sudah. Anak-anak, Rima ini pindahan dari kampung tepatnya daerah Bogor. Jadi, Rima belum terbiasa dan mungkin terkejut dengan bahasa keseharian daerah kita. Nak Rima silakan duduk bersama dengan Nak Dina,”

 

“Baik, bu. Terima kasih,” sahut Rima.

 

Kemudian, kegiatan belajar mengajar pun berlangsung.

 

Dina mendekati Rima lalu tersenyum. “Rima, kamu jangan khawatir. Aku juga orang sunda kok.”

 

“Loh kamu sunda?” tanya Rima dengan terkejut Dina menganggukan kepala. “Muhun

“Ih seneng pisan” tutur Rima.

 

Rasanya lega ketika Rima menemukan kawan dengan bahasa daerah yang sama. Pikiran negatifnya mulai surut, ia berpikir jika mempunyai teman satu saja sudah cukup untuk dirinya.


Jam istirahat pun tiba, seluruh siswa beranjak meninggalkan kelas dan menuju kantin untuk menyantap camilan.”

 

“Kamu mau jajan, Rim?” tanya Dina

 

“Aku bawa bekal, Din” sahut Rima dengan menunjukkan bekalnya.

 

Dina beranjak dari tempat duduk dan bersiap menuju kantin. “Oh nya atuh. Dina ka kantin nya

 

“Nya din,” ucap Rima.

 

Elis menghampiri Rima. “Hai, Rima. Aku Elis, salam kenal.”

 

“Halo, Elis. Salam kenal kembali. Aku bawa nasi goreng buatan ibuku nih.

Kamu mau?” tutur Rima

 

“Terima kasih, aku juga bawa bekal kok. Kita makan bareng, yuk!” ajak Elis. Rima sangat senang. “Yuk”

Rima dan Elis menikmati makan siangnya. Ia bercerita layaknya teman yang sudah kenal begitu lama. Setelah makanan yang mereka makan sudah habis, teman-teman lainnya pun kembali ke kelas dengan membawa sisa jajanan yang mereka genggam.

 

Gita menghampiri Rima dan Elis. “Wah, Elis udah akrab nih sama anak baru.” “Rima anaknya asik banget loh,” tutur Elis

Gita berbisik, “Jangan lupain temen lama yo, Lis.” “ora,” sahut Elis.

“Biasanya kamu bawa gedhang aku mau minta dong,” pinta Gita Elis menyodorkan pisang kepada Gita, “Nih.”


“Loh ini gedhang? Ini tu pisang loh,” ujar Rima.

 

“loh ini gedhang kalo di bahasa Jawa. Gedhang itu pisang, Rim” jelas Elis. “Gedhang itu kalo di daerahku pepaya” ungkap Rima.

Mendengar perbincangan tersebut, Dina pun menghampiri Rima. “Iya, Rim. Memang betul kalo di sunda gedhang itu pepaya.”

 

“Kalau di kampungku Madura hampir sama dengan bahasa jawa yo, gheddâng

tu pisang” tutur Ainul.

 

“Kamu orang Madura?”tanya Rima.

 

Engko asli oreng madura” ucap Ainul dengan menggunakan bahasa Madura.

 

Rima   dan   teman-teman   lainnya   merasa bingung dengan ucapan yang diolontarkan Ainul.

 

“Artinya apa, Nul?” tanya Rima penasaran.

 

Ainul pun menjawab, “Artinya, aku asli orang Madura” “Ih pusing deh, beda bahasa pasti beda arti” cetus Gita.

Rima dan teman-temannya tak sadar jika bel istirahat sudah berakhir. Ibu Guru pun sudah memasuki ruang kelas dan mendengarkan perbincangan yang sedang dibicarakan oleh mereka. “Hayo, siapa yang mengajarkan seperti itu?”

 

“Maaf, Bu.” Lirih Gita.

 

Ibu Guru hanya menganggukan kepala dan memerintahkan siswa untuk duduk di tempatnya masing-masing.

 

“Anak-anak, keberagaman bahasa di Indonesia tu memang banyak sekali. Contohnya di kelas ini. Rima berasal dari suku Sunda, Ainul berasal dari Madura, dan teman-teman lainnya mungkin asli daerah sini. Rata-rata teman-


teman di kelas ini menggunakan bahasa jawa karna berasal dari daerah Jawa. Begitupun, Rima. Ia berasal dari Bogor dan tentunya menggunakan bahasa Sunda di kehidupan sehari-harinya,” terang Bu Guru.

 

“Jadi, kita sebagai warga negara Indonesia harus melestarikan bahasa daerah dan menghargai berbagai macam bahasa di Indonesia,” tuturnya.

 

Siswa terdiam menyerap perkataan yang disampaikan oleh bu guru di depan kelas. Kemudian, siswa kembali fokus dengan materi  pembelajaran selanjutnya.

 

"Baik, anak-anak. Kita lanjutkan materi yang kemarin, ya. Buka buku paket bahasa Indonesia halaman 32."

 

Siswa pun mengikuti arahan guru.

 

Tak terasa bel pulang sekolah sudah berbunyi. Siswa berbondong-bondong meninggalkan ruang kelas. Terlihat Rima sedang menunggu dijemput oleh ayahnya.

 

"Rim, duluan yo" sapa Dina yang sedang melaju dengan sepedanya. "Iyaaa hati-hati," sahut Rima melambaikan tangan ke arah Dina.

Tak lama kemudian, ayah pun datang dengan motor tua yang selalu menemaninya.

 

"Bagaimana hari ini, nyonya?" tanya ayah dengan senyum manisnya sambil memberikan helm untuk anaknya.

 

"Iya atuh pasti," ucap Rima sembari menggunakan helm.

 

Sepanjang perjalanan Rima bercerita tentang hari ini. Ayah bagaikan rumah dan bisa menjadi payung. Ia selalu menjaga Rima dari terpaan jahatnya dunia dan menjadi tempat istirahat dikala lelahnya berproses.


"Seru kan, Yah. Jadi téh Rima teu cuma bisa bahasa sunda doang. Tapi, Rima ogé bisa belajar bahasa jawa ka si Elis jeung bisa belajar bahasa Madura ka Ainul," ucap Rima sambil membukakan helm di kepalanya. Ia tak henti- hentinya bercerita walaupun sudah sampai di rumahnya.

 

“Nah kan bener kata Ayah tadi pagi. Di kehidupan baru ini, kita tidak hanya bertemu dengan orang baru. Tapi, kita juga bisa mengenal lingkungan dan juga bahasanya. Kita bisa belajar hal baru di luar mata pelajaran yang diajarkan di sekolah. Jadi, Rima jangan takut kalau tidak mengerti bahasa teman-teman di sekolah. Ayah juga dulu kurang paham dengan bahasa sunda yang sering diucapkan oleh mamahmu,” terang ayah.

 

Rima tertawa mendengar cerita ayah. “Rima mau deh bisa keliling Indonesia, jadi Rima bisa tahu bahasa-bahasa daerah di Indonesia”

 

Ayah sangat terharu dengan semangatnya Rima. “Berarti Rima harus belajar biar pinter supaya cita-citanya tercapai”

 

“Aamiin” ucap Rima.

 

Rima sangat senang dengan keadaan ini, meskipun sebelumnya ia merasa cobaan ini merupakan badai untuk keluarganya dan selalu beranggapan akan gelap kehidupannya. Namun, kegelapan itu mampu diterangkan kembali bak matahari yang selalu menerangi bumi. Nyatanya, badai hanya sementara. Melalui kesabaran dan keikhlasan akan memberikan pelangi yang indah.

 

Rima mengerti bahwa kejadian yang menimpa keluarganya tidak selalu membawa keteduhan. Kehidupan yang baru pun tidak akan selalu buruk. Adaptasi memang sulit, tetapi akan lebih sulit jika bertahan dengan situasi yang selalu menyakitkan. Ia mencoba menerima semua hal yang terjadi di kehidupannya dan terus belajar di kehidupan barunya. Salah satu karunia yang ia dapatkan di lingkungan barunya yaitu mampu mengenal bahasa daerah dari setiap teman-temannya.

JUARA 1 CIPTA CERPEN BULAN BAHASA 2022

 

PAK AGUS DAN SEPANJANG JALAN BANGUNAN-BANGUNAN TUA PENINGGALAN BELANDA

;era kekinian tidak kekurangan ragam bahasa, ia hanya perlu merawat sebaik-baiknya.

 

Oleh Muammanah Fauzi*

 

Sudah hampir pukul sepuluh malam, buku-buku di keranjang sepedanya tidak ada yang membaca. Tempat ini telah menjebak Pak Agus dalam nasib yang tidak beruntung. Tempat terburuk dari pusat kota. Sampah dan pengemis berserakan di jalanan. Putung rokok dan pelacur bertebaran di trotoar. Anak-anak gelandangan yang dipaksa beraut wajah menyedihkan sudah terlihat mabuk dengan kemiskinan. Di depanku, seorang preman pasar melangkah sempoyongan dengan celana komprang yang hampir kedodoran, sambil mengepal uang sekitar tujuh belas ribu di tangannya, ia melewati pak Agus yang masih sabar menunggu pelanggan. Saya mengawasi langkahnya sampai ia berbelok ke lorong yang memanjang diantara gedung-gedung tua peninggalan Belanda, tempat para pelacur memajang diri menunggu jam sewa mereka. Tapi mala mini benar-benar sepi. Malam minggu tidak seramai malam-malam lembur seperti biasanya. Para pekerja kantoran lebih memilih liburan bersama keluarga saat minggu tiba daripada mampir ke tempat ini, menggeniti pelacur seksi. Jadi hanya ada satu dua pelacur yang masih siaga di remang-remang lampu. Saya habiskan kopi saya di warkop pojok tempat ini. Saya mampiri pak Agus diseberang jalan dengan membawakannya kopi susu hangat.

“Permisi, pak, saya mau baca bukunya A.S Laksana, pak”. Sapaku sambil menjulurkan kopi yang tadi saya beli ke arah pak Agus. Saya mengambil tempat duduk yang nyaman di trotoar, tepat disamping pak Agus dan sepeda ontelnya.

Nggeh, nak. Pak Agus carikan sebentar ya. Kota tanpa kelamin, kan?” Nggeh, pak. Benar.”

Sebenarnya memang dari dulu saya sangat menggemari karya-karya sastrawan besar bung A.S Laksana ini. Selain mengandung sastra yang renyah, kritik sosial dengan paduan alur cerita yang tidak dimiliki sastrawan lain, mampu membaca dan memekai keadaan sosial secara nyata, saya juga banyak mendapatkan kosa kata bahasa yang asik dibaca. Cerpen-cerpen AS Laksana seperti sihir yang menghadirkan sesuatu


yang tak terduga-duga, yang kemudian meninggalkanmu dengan bibir melongo berlama-lama. Saya juga pelanggan dan pembaca buku-buku dari lapaknya pak Agus. Meski setiap buku hanya dijatahi seharga seribu rupiah dalam 1 kali duduk oleh pak Agus, saya sering memberi lebih kepada beliau, hitung-hitung ongkos terimakasih saya karena beliau masih terus berjuang menebar kebaikan dan pengetahuan. Ditambah daritadi saya lihat, pak Agus tidak ada pengunjung, saya kasih ongkos makan, mumpung rejeki saya lebih. Namun tujuan awal saya kesini sebenarnya bukan untuk membaca buku-bukunya pak Agus, melainkan karena saya ingin mengobrol seputar kehidupan beliau yang telah memilih bekerja di tempat seperti ini, tempat yang orang- orangnya pura-pura lupa akan ada neraka esok hari. Lelaki itu duduk disampingku. Wajahnya keriput dan pucat dan sangat tua. Sembari menyeruput kopi yang saya bawakan, pak Agus memulai pembicaraan.

“Sampeyan ga bosen, nak baca buku disini?”

 

“Waduh pak Agus, saya malah senang baca buku sembari diskusi sama pakarnya langsung begini..”. Pak Agus terkikik. Gigi-giginya yang sudah banyak hilang dimakan usia, membuat pak Agus semakin terlihat tidak berdaya. Orang tua seperti pak Agus seharusnya sudah berdiam dan istirahat di rumah, menikmati waktu senjanya bersama keluarga, bermain bersama cucu-cucunya. Namun kehidupan seperti itu tidak pernah ada di tempat seperti ini. Siapa yang menganggur, dia yang akan kalah dan dicap tidak bertanggung jawab akan hidupnya. Makanya, semua orang di tempat ini giat bekerja, meski harus menghalalkan segala cara, semata-mata untuk bernapas lebih lama.

Pak Agus sudah berumur 86 tahun, beliau seumuran dengan Chairil Anwar, penyair ternama Indonesia itu. Oleh karena itu, pak Agus sudah sangat fasih tentang perkembangan sastra dari tahun ke tahun. Meski sudah berumur dan terkadang pikun, pak Agus adalah sesosok panutan dalam urusan mengingat perjuangan sastrawan Indonesia, pak Agus senang menceritakan ulang novel-novel Pramoedya Ananta Toer dengan perbandingan kejadian aslinya dahulu. Pak Agus pernah kena semprot orang- orang Belanda berkali-berkali karena membagi pengetahuan kepada teman-teman seperjuangannya. Hal itu dianggap membuat masyarakat pribumi malas bekerja untuk Belanda, sehingga tak jarang pak Agus dan teman-temannya dipukuli. Pak Agus adalah pahlawan baca yang hidup sampai sekarang. Sayangnya, nasib beliau selalu tidak


seberuntung orang lain sejak 86 tahun yang lalu. Setelah Indonesia merdeka, Pak Agus pindah ke Jakarta, guna mencari kerja yang lebih layak. Namun naas, pak Agus jadi korban penipuan dari rekan kerjanya sendiri disana. Barangkali Semarang akan menjadi nasib yang baik, Pak Agus mencoba mengundi nasib disana. Sayangnya, setelah 14 tahun bekerja, pabrik tempat pak Agus bekerja mengalami kebakaran dan kerugian besar-besaran sehingga semua pegawai pabrik itu di PHK paksa. Apalah daya kalau sudah takdir, Pak Agus pasrah dan harus tetap menjalani hidup. Kemudian pak Agus pindah ke Sumatera, disanalah dia dipertemukan dengan kekasih hatinya, penjual nasi Padang yang cantik jelita dan sopan menarik hati. Pak Agus melabuhkan hati dan menikahinya. Sayangnya, kehidupan mereka tidak mudah, dililit hutang sana sini membuat Sunarsih, diam-diam meninggalkan Pak Agus dan menikah lagi. Entah sekarang Sunarsih bahagia dan telah melupakan pak Agus, atau malah tidak bisa lepas dari nasib hutang seperti rumah tangganya dulu yang jelas, Pak Agus sudah ikhlas.

Kemudian pak Agus pindah ke tempaat ini, menjadi lapak baca keliling sampai sekarang.

“Sejak tahun 1998-2008, masih banyak yang baca buku pak Agus ini, sehari bisa lima puluh ribu. Kalau sekarang, dapat satu pembaca saja saya sudah bersyukur”. Kata pak Agus dengan suara yang sudah ngos-ngosan.

“Mungkin karena sekarang sudah serba digital, pak. Jadi anak-anak bisa baca buku dengan mengakses internet”

“Iya bapak dengar-dengar juga emang karena itu. Bapak tidak punya telefon, makanya tidak tahu.”

“bapak kenapa memilih buku-buku sastra pak yang disediakan di lapak pak

Agus?”

 

“Karena saya senang dengan sastra, le. Sastra adalah pertunjukan dari seniman- seniman kita mengolah bahasa, dari bahasa Indonesia, sampai bahasa derahnya mereka. Pak Agus kepingin jadi sastrawan tapi ga kesampean…” Pak Agus menghela napas, sambil menyeruput kopinya. Saya mengangguk-angguk mengerti. Kemudian pak Agus menepuk bahu, melanjutkan “…Generasi-generasi sampeyanlah yang harus lebih melek sastra. Merawat kekayaan bahasa daerah. Apalagi sekarang sudah ada internet toh kata sampeyan tadi? Makin canggih, manfaatkan itu. Anak-anak harus dikenalkan


dengan sastra dan buku-buku, nak. Karena belajar sastra mendukung intelektual mereka, imajinasi, karakter dan perilaku santun anak. Pak Agus lihat sekarang anak muda yang berkata-kata halus sudah jarang. Lebih banyak yang senang berbicara sarkastis daripada puitis. Sastra sudah jarang ditemui, nak. Saat anak-anak kehilangan sastra, mereka akan kehilangan budinya berbahasa”

“Tapi kenapa pak Agus memilih tempat ini? Kan pak Agus bisa mengajar di sekolah?”, saya sadar pertanyaan ini lancang diajukan kepada pak Agus, tapi rasa penasaran saya mendesak untuk diutarakan langsung kepada beliau.

“Di sekolah, adalah tempat orang-orang yang mampu membayar pendidikan. Disini, jangankan membayar pendidikan, membayar nasi saja kesusahan, apalagi sampai membaca buku, belajar sastra. Orang susah seperti kami, kehilangan segalanya jika tidak mencari, nak”

“Tapi kalau disini siapa yang membaca, pak? Saya lihat bapak sepi pelanggan?”

 

“Ada, tapi mereka lupa bayar. Tidak apa-apa. Terkadang pelacur-pelacurlah yang senang membaca. Mereka belajar sastra untuk menyenangkan pelanggannya.. “ Pak Agus tertawa geli, “… saya jadi mikir, semoga mahasiswa-mahasiswa tidak kalah dengan pelacur-pelacur itu. Mereka saja belajar sastra untuk menyenangkan pelanggan haramnya. Masa mahasiswa enggan mempelajari sastra karena malas, padahal uda bayar mahal, halal pula.”

Saya tertampar dengan perbandingan pak Agus. Melihat banyaknya kesempatan emas belajar yang disia-siakan kaum ber-uang untuk kuliah, memang menyakitkan sekali. Pak Agus memang tidak berpendidikan tinggi, namun beliau sangat peduli tentang perkembangan sastra di masa setelahnya kelak.

“Terkadang juga anak-anak gelandangan itu yang baca. Mereka bilang ingin sekolah, tapi kesempatan emas tidak ikut lahir bersamaan dengan lahirnya mereka. Sastra dan buku bukan segalanya, nak. Tetapi segalanya bisa berawal dari sana. Pak Agus titip sastra di tangan sampeyan, nak”

“Kapan-kapan kita jalan-jalan ya, pak?” “Kemana?”

“Ke Perpustakaan Nasional.”


“Pak Agus harus kerja”

 

“Jangan dipikirin, pak Agus. Pak Agus Istirahat, sudah larut pak. Esok saya kembali”

***

 

Setelah kepindahan dinas saya ke Bandung, saya kangen berdiskusi dengan beliau. Tentu saja poercakapan-percakapan dengan pak Agus setahun lalu masih jelas di kepala. Karena pak Agus, saya sepakat dengan istri untuk menguliahkan anak-anak kami di Fakultas kesusasteraan. Saya akan mengunjungi pak Agus, untuk memenuhi janji saya waktu itu untuk mengajaknya ke perpustakaan nasional. Saya menurunkan jendela mobil, diluar gerimis menambah suasana sendu tempat ini. Wangi parfum bertebaran di sepanjang jalan, aroma mawar yang paling tercium. Saya kira pelacur- pelacur itu telah pensiun dan bertaubat, ternyata mereka masih belum menemukan “suami sejatinya”. Mereka menggoda saya, mereka mengira saya lagi mencari perempuan cantik diantara mereka, padahal saya ingin menanyakan pak Agus. Di seberang jalan warkop pojok, pak Agus tidak kelihatan menjajahkan bukunya.

“Maaf mbak, saya mau tanya alamatnya pak Agus, tukang lapak baca keliling seberang jalan sana?” sembari menunjuk arah warkop, saya memilih kata-kata yang sopan dan berhati-hati

“Oh si pahlawan baca itu, mas?” “Aaaa, iya benar. Si pahlawan baca”

“Beliau sudah istirahat, mas. Kata beliau, kalau ada orang datang mencarinya, untuk mengajak ke perpustakaan nasional, suruh ajak kami saja”

Dada saya memanas, tangan saya gemetar, saya terlambat. Pak Agus si pahlawan baca di tempat ini telah beristirahat dengan tenang. Pak Agus, engkau kekal di ingatan kami, di ingatan perempuan-perempuan nakal yang menggemari sastra ini. Semoga engkau dalam kehidupan selanjutnya yang lebih layak, bapak pahlawan baca kami.

“Oh iya, besok ajak teman-teman sampeyan berbusana yang sopan ya mbak, kita ke perpustakaan nasional”


Tiba-tiba sepanjang jalan diantara gedung-gedung tua peninggalan Belanda itu ramai dipenuhi sorak-sorai, pelacur-pelacur itu senang besok akan ke kota, mempelajari sastra. Pak Agus, telah abadi di ingatan mereka.


Surabaya, 08 November 2022